Tribute To Ahmad Djuhara
Administrator
17.Apr.2020

 

Ahmad Djuhara, lahir di Jakarta 22 November 1966. Arsitek yang belajar di Unviersitas Katolik Parahyangan lulus pada tahun 1991. Salah satu tokoh arsitek Indonesia yang telah memberikan banyak kontribusi dalam kemajuan Profesi Arsitek di Indonesia. Sejak tahun 1992 ia telah aktif di Forum Arsitek Muda Indonesia (AMI). Sebelum mencoba peruntungan di tingkat pusat, Ahmad Djuhara pernah menempati beberapa posisi strategis di IAI Jakarta, seperti Ketua Badan Sistem Informasi Arsitektur (2000-2002), Ketua Badan Keprofesian (2003-2006), Ketua Pokja Tatanan Kerja Arsitek di Pemprov DKI (2005).

 

Selain itu, ia juga terlibat dalam Jaringan Arsitektur Asia Modern (maA) dan diangkat sebagai Wakil Koordinator Indonesia MAAN pada tahun 2005. Ahmad Djuhara menjabat sebagai Ketua IAI DKI Jakarta pada periode tahun 2006 - 2009, setelah itu Djuhara menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (AIAI) pada periode tahun 2015 - 2018 dan 2018 - 2021. 

 

Jejak karir Ahmad Djuhara bukan hanya bersinar di dalam negeri tapi juga di luar negri , hal ini dikarenakan sejak tahun 1993, Ahmad Djuhara sering mengikuti pameran dalam dan luar negri. Beberapa pameran yang pernah diikuti Djuhara yaitu, Servants Right to Space di International Architecture Biennale Rotterdam tahun 2005, dan  Pameran Karya Arsitek Muda Indonesia di Staad Huis, Den Haag, Belanda, d'Form - desain produk Indonesia tahun 2005, kemudian di tahun 2011 Djuhara mengikuti pameran Indonesia Architects Week di Tokyo, Jepang. Hal ini membuat Djuhara sering mendapatkan penghargaan Arsitektur di tingkat internasional, seperti Aga Khan Award for Architeture Cycle 2013 Museum of Handcraft Paper di Yunnan, China, dan Aga Khan Award for Architeture Cycle 2016 Hutong Children’s Library and Art Centre di Beijing, China.

 

Disamping itu, Djuhara juga memiliki perusahaan konsultan arsitektur DJuhara + Djuhara yang didirikan pada tahun 2001 bersama sang istri Wendy Djuhara yang juga memiliki profesi sebagai arsitek. 

 

-------

 

Ahmad Djuhara, Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) meninggal dunia dalam usia 53 tahun. Selama karirnya di bidang arsitektur, Ahmad Djuhara banyak meraih penghargaan antara lain Citation Award (2002), Penghargaan III - Maket Terbaik dari International Architecture Biennale Rotterdam 2005 untuk Maket Batavia 1681 (2005) dan Penghargaan Utama IAI Award 2008 untuk Rumah Baja Wisnu. Karya Rumah Baja Wisnu ini membuat Ahmad Djuhara disegani oleh arsitek lainnya dan mengantarkan beliau ke jenjang popularitas. Simak penjelasan mengenai Rumah Baja Wisnu berikut ini!


 


 

Sepasang suami istri, Nugroho Wisnu dan Tri Sundari memberikan tantangan kepada arsitek Ahmad Djuhara berupa rumah yang bebas rayap dengan keterbatasan lahan yang sempit dan biaya. 

 

Wisnu dan Sundari memiliki lahan seluas 215m2 berlokasi di kompleks BTN di Bekasi. Letaknya ini berbatasan langsung dengan perumahan warga. Sang pemilik membeli lahan warga sedikit demi sedikit hingga lahan rumahnya menjadi lebih besar dan memanjang ke belakang dibanding dengan tetangganya. Uniknya penambahan lahan ke belakang ini membentuk huruf L pada lahan Wisnu dan Sundari. 

 

Menjawab permintaan khusus dari sang pemilik lahan, arsitek menjawabnya dengan ide ide yang kreatif. Pada mulanya, arsitek memilih material baja untuk mengatasi permasalahan rayap di rumah. Penggunaan material baja merupakan solusi yang praktis dalam proses pembangunan rumah. Akan tetapi, pada prosesnya harga material baja melambung tinggi dan pemilik memiliki keterbatasan biaya. Sehingga penggunaan material baja hanya pada struktur atap, dilanjutkan dengan material besi dan beton untuk bagian rumah lainnya dikarenakan harga besi dan beton yang relatif murah dan mudah dalam perawatannya. 


 

 

 

 

 



 

Floating box merupakan konsep utama bangunan yang dibuat oleh Arsitek Ahmad Djuhara ini, bangunan memiliki ruangan open plan di bagian bawah, yang menjadikan ini bagian dari interpretasi modern dari rumah panggung tradisional. 

 

 

Menjawab tantangan berupa lahan yang sempit dan unik, Arsitek Ahmad Djuhara mendesain ruang lantai satu tanpa sekat dan menghubungkan langsung taman belakang rumah dengan pintu masuk utama. Hal ini membuat lahan terasa lebih lapang. 

 

Lantai satu dibuat menjadi ruang bersama yang terdiri dari ruang makan, dan ruang keluarga. Sedangkan lantai dua di khususkan untuk ruangan private seperti kamar tidur, ruang belajar dan ruang santai. 

 

 

Semua ruangan di dalam rumah Wisnu dan Sundari ini memperoleh sinar matahari yang cukup sehingga perputaran udara di dalam ruangan menjadi lebih segar dan bersih. Menariknya, warna - warna netral yang digunakan menjadikan konsep rumah floating box ini menjadi lebih luas. 

 

 

 

Sumber : 

Rooang

Kompas


Tags :
Recently Submitted Blog Posts
Must Read
5 Area yang Paling Banyak Dicari Pencari Rumah di Jakarta

Lamudi platform real estate global terkemuka menklasifikasi 5 areal paling banyak diminati pencari rumah Jakarta 

Rahasia Bisnis Pabrik Schneider Engineer-to-Order Terbesar di Asia

PT Schneider Electric Indonesia Plant Cikarang adalah pabrik perakitan panel terbesar di Asia dan menjadi pabrik pertama yang menggabungkan sistem otomasi industri dan pemanfaatan energi terbarukan di dalam operasinya.

Kegunaan Plastik Bahan Bangunan

Siapa yang tidak mengenal plastik? Tentunya setiap masing-masing individu tahu apa itu plastik dan telah menjadi kebutuhan kita yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.