#BINCANG BANGUNESIA BERSAMA ISSO ARCHITECT
Administrator
9.Sep.2019

Tangerang, 8 Agustus 2019 – Tim Bangunesia berkesempatan untuk menemui salah satu biro arsitek ternama di Indonesia, ISSO Architect. Sebelumnya mereka juga tergabung menjadi Host Partner pada acara IndoBuildTech Expo 2019 di bulan Maret dan Agustus lalu dan menampilkan panel karyanya. Baca selengkapnya mengenai cerita awal mula karir hingga tanggapan dari Wibisono Soegih selaku founder dari ISSO Architect di Bincang Bangunesia dengan ISSO Architect dibawah ini ya!

Bangunesia : Awal Mula ISSO Architect berdiri?                                           

ISSO Architect : ISSO berdiri di tahun 2017 , sebelumnya saya bekerja di biro arsitek lain terlebih dahulu. Pertama kali dibentuk bersama partner saya bernama Stephanie. Karena dia sedang sekolah diluar, saat ini saya menjalankan ISSO sendiri bersama 4 karyawan lainnya. Namun untuk beberapa project, saya dan Stephanie tetap berkomunikasi dan melakukan diskusi bersama.

Bangunesia : Berapa lama akhirnya memutuskan membangun ISSO Architect?

ISSO Architect :Sudah keinginan sejak lama sebetulnya untuk membuat biro sendiri. Kita pun melihat perkembangan dunia arsitektur kedepannya sangat pesat dan sepertinya generasi yang lebih muda daripada saya dapat berkembang lebih cepat. Sebelumnya, saya juga sering membandingkan dengan biro arsitek tempat saya bekerja dan mempelajari cara rekan-rekan saya dalam menjalankan bironya, ditambah lagi saat itu terpicu datangnya tawaran proyek yang memungkinkan untuk dikerjakan sendirian. Akhirnya pada titik itulah semakin bulat keputusan saya untuk memulai biro sendiri. Oiya, hal tersebut juga didukung pengalaman selama 6 tahun yaa bekerja di biro lama yang tentunya memberikan ilmu yang sangat banyak kepada saya, baik segi arsitektur, maupun bagaimana berhubungan dengan klien.

 

 

Bangunesia : Kenapa bironya diberi nama ISSO Architect?

ISSO Architect : Mulanya kita (Wibisono Soegih & Stephanie) juga kebingungan untuk nama. Nama ISSO sendiri sebetulnya self-branding dari nama saya dan rekan saya, yaitu Wibissono dan juga rekan saya Stephanie, oleh karena itu pengejaan ISSO menggunakan double S ; wibISOno & Stephanie. Kata ISSO juga sangat familiar di orang Jawa, yang artinya bisa. Jadi, makna ISSO sendiri itu sangat positif.

Bangunesia : Project pertama apasih yang ditangani ISSO Architect itu?

ISSO Architect : Proyek yang menjadi trigger untuk membuat biro sendiri itu adalah Rumah Tinggal di daerah Tomang. Projek ini menjadi special karena kita tahu klien ini memiliki visi dan taste yang sama dengan ISSO serta klien ini juga memberikan kesempatan lebih untuk ISSO menuangkan ide-ide dalam membuat sesuatu yang baru di rumahnya. Sehingga kami punya bayangan jika rumah ini selesai dan pesan yang ingin kita sampaikan terealisasikan, sepertinya dapat membantu untuk ISSO untuk lebih maju kedepannya.

Bangunesia : Sudah berapa Proyek yang dikerjakan oleh ISSO sampai saat ini?

ISSO Architect :Kita tidak menyangka antusiasme yang didapatkan lebih dari yang kita rencanakan, untuk secara keseluruhan kira kira diatas 40 proyek yang jumlahnya kita tidak ketahui pasti ya. Ragam projek yang dikerjakan itu dari rumah tinggal, retail café, serta proyek cluster.

 

 

Bangunesia : Sosial Media ISSO sendiri belum ada ya?

ISSO Architect : Semua sedang disiapkan, sehingga saat ini kita memfokuskan dokumentasi project – project yang sudah ada sehingga ketika publikasi sosial media ISSO dapat langsung menyertakan hasil kerja ISSO secara lengkap. Sampai saat ini ISSO sendiri lebih dikenal melalui word of mouth dari lingkungan terdekat maupun biro – biro arsitek yang lain, serta sosial media pribadi yang digunakan oleh saya sekarang (@wibisonosoegih).

Bangunesia : Apa ciri khas desain dari ISSO Architect?

ISSO Architect : Sebetulnya tidak ada ciri khusus yang kita gunakan. Sejauh ini saya percaya kalau orang yang menggunakan jasa arsitek tidak hanya mengharapkan arsitek bisa membuat bangunan, tapi karena si arsitek punya rasa yang lebih untuk akhirnya dipilih oleh klien.  Menurut saya, keberhasilan sebuah desain merupakan hasil koordinasi dari apa yang klien mau dan apa yang arsitek mau. Hal ini menjadi solusi ketika dihadapkan dengan klien yang sangat beragam dari profesi, visi, maupuntaste terhadap bangunan yang diharapkan. Penting untuk bisa melakukan diskusi dengan baik agar bisa mewujudkan keinginan kedua belah pihak, agar dapat direalisasikan dengan baik.

 

 

 

Bangunesia : Kalo begitu, jadi kira-kira apa yang membuat klien mempercayakan ISSO Architect untuk mendesain proyeknya?

ISSO Architect :Saya rasa setiap biro ditemukan oleh klien yang berbeda-beda, dan setiap klien memberikan kesempatan yang berbeda pula. Tapi stereotype yang terjadi saat ini kalo klien cenderung lebih memilih arsitek yang lebih muda karena harga dianggap bisa lebih rendah atau mungkin yang kedua, arsiteknya bisa lebih mengikuti permintaan kliennya. Mungkin ya… hehe.

 

 

 

Bangunesia : Projek yang paling berkesan

ISSO Architect : Tidak bermaksud untuk membedakan laki laki dan perempuan yaa, tetapi ketika menghadapi klien perempuan kita harus lebih benar-benar memahami persepsi “kewanitaan”nya, yaitu lebih detail dan lebih banyak inspirasi yang ingin dimasukkan kedalam bentuk akhir. Begitu juga ketika menghadapi klien muda, positifnya adalah mereka punya gambaran yang jelas tentang apa yang diinginkan, namun ketika berubah menjadi keras kepala dapat mengurangi kemudahan dalam proses diskusi. Saya juga yakin pekerjaan arsitek serupa dengan aktris dan actor Karena harus berusaha memahami peran sebagai kliennya, ataupun seperti dokter, yang harus bisa menyelesaikan masalah pasiennya ; klien. Sehingga kita mengerjakan sebuah project tidak hanya membuat sebuah rumah tetapi juga merawat ‘personality’ orangnya.

 

Bangunesia : Menurut ISSO Architect, perkembangan dunia arsitek saat ini seperti apa sih?

ISSO Architect : Wah cepat sekali tentu yaa perkembangannya.  Pada generasi saya dan teman – teman arsitek lain tentu hal ini sangat menguntungkan. Contohnya dari segi sosial media dan teknologi lainnya yang dapat mempublikasikan diri kita kemanapun dan kapanpun dengan mudah. Mungkin saat generasi sebelumnya kemudahan itu tidak dimiliki sehingga membuat biro arsitek sendiri itu menjadi sesuatu hal besar yang tidak dapat dilakukan dengan cepat, sangat berbeda dengan kondisi sekarang.

Saat ini tanpa disadari, sudah sangat banyak sekali biro arsitek yang bermunculan dan menunjukkan perkembangan arsitek di generasi ini, nah hal yang perlu dipikirkan adalah bagaimana caranya untuk survive di era yang bergerak sangat cepat seperti saat ini, karena hal tersebut juga akan menunjukkan para biro itu untuk dapat segera menempatkan dirinya di posisi yang tepat. Munculnya kandidat pesaing – pesaing yang ada bukan menjadi kendala melainkan menunjukkan berkembangnya dunia arsitek saat ini.

Arsitek sendiri bukan hanya sekedar pekerjaan, melainkan passion. Sehingga jika niatnya hanya untuk bekerja khawatirnya tidak dapat bertahan dengan lama. Tanpa passion yang lebih, dan kemauan untuk memperjuangkan pekerjaannya sebagai arsitek, saya rasa akan kecil kemungkinan untuk bertahan di tengah tingginya persaingan pada dunia arsitek sekarang.


Tags : bincang bangunesia, wibisoeno soegih, arsitek, konsep, perumahan, residen, hotel, talkshow, perancangan, hunian
Recently Submitted Blog Posts
Must Read
Material Resources & Cycle

Along with the needs and trends of green building construction concept, the green certification has been made for Indonesia with one of its aspect is material resources and cycle.

18 Desain dan Layout Kamar Kosan Kecil Tapi Stylish

Kamar kosan identik dengan anak rantau, bagi mahasiswa yang menuntut ilmu ataupun para pekerja yang sedang meniti karier

Teknologi BioPad Dalam Water Dispenser Modena

PT Modena Indonesia  meluncurkan produk dispenser terbarunya yaitu  Modena DD 7181L, (26/06)